UNEG-ENEG

June 23rd, 2009

 

Sudah bisa saya duga, kalau akan begini jadinya. Dari dulu debat resmi yang diselenggarakan oleh KPU tidak pernah seru. Lebih berupa pemaparan visi misi saja. Walaupun ke 3 calon wakil presiden hadir, namun peraturan yang dibuat KPU menjadikan adanya tembok2x tebal yang membuat tidak adanya kemungkinan saling debat, saling serang visi, misi yang mungkin akan mencerahkan bagi masyarakat tentang kelemahan dan kelebihan visi, misi yang dimiliki tiap-tiap calon.

Arggggh, dagelan politik ini makin gak menarik saja. Calon-calon yang maju jelas bukan yang terbaik, bukan yang terpintar, bukan yang paling memiliki niat baik buat bangsa. Trus yang ter-Apa ya?? Ini buah dari peraturan yang di buat mafia senayan, yang membatasi hanya kalangan mereka saja yang bisa mencalonkan diri.

Mungkin penggambaran yang seperti pada film CaPres benar adanya, para politikus busuk bertindak bagaikan sang raja. Setiap hari kerjanya hanya membohongi rakyat, meminta upeti dari pengusaha, mengancam, main perempuan, dll. Hmm, masih harus bersabar kali yah saya sebagai bangsa indonesia melihat keadaan ini, habis mau gimana lagi??? Apa harus pindah kewarganegaraan??

Tadinya saya masih berharap ada “arus putih” yang bisa membesar menjadi gelombang pasang yang bisa menularkan segala ke putihannya, ke jernihannya dan kebaikannya kepada genangan hitam yang pekat disana. Akan tetapi tampaknya harapan tinggal harapan, kini arus tersebut tak lagi bergerak lincah membersihkan genangan hitam pekat. Kini arus itu justru mulai ikut menggenang, mulai ikut menghitam, arrrgh sungguh hancurnya hatiku (gaya Olga Syahputra).

Melihat perpolitikan di negeri ini bikin makan hati saja, apakah aku harus tutup mata, tutup telinga ?? Menjadi orang2x yang skeptis, oportunis, dan pragmatis?? Nampaknya memang negeri ini adalah sebuah Universitas besar yang dibuat untuk menghasilkan lulusan-lulusan yang seperti itu, dan yang paling bersifat seperti itulah yang jadi no 1. Hayo “siapa yang jadi Juaranya” (gaya dee-malaikat juga tahu) ??????

 

Cikarang, 24 juni 2009

Agoes




2 Responses to “UNEG-ENEG”

  1.   dian on June 24, 2009 12:48 am

    Itulah politik…yg memang kayak sebuah panggung sandiwara. Qta hanya jadi penonton. tapi qta tetep berharap politik bkn hanya sekedar permainan aja (kayak lagunya gita gutawa). Dg semakin kritis masy.(semakin pinter tentunya) tentulah harapan itu gak hanya sekedar harapan yg menguap begitu saja. Semoga masy. yg madani bisa terwujud. just be optimist…..amiiin

  2.   agoes on June 29, 2009 10:26 pm

    semoga. thanks for comment. mana nih blog nya?? tak tunggu lho

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

Name (required)

Email (required)

Website

Speak your mind