Percaya (pake bahasa arab ya). Sampai dimana batasnya??

June 29th, 2009

Pernah saya membaca sebuah buku kemiliteran. Ada cerita yang cukup menarik buat saya. Jadi begini kisahnya. Pada suatu hari satu kelompok tentara dikirim untuk menyerbu sebuah perkampungan musuh. kelompok tersebut dipimpin oleh seorang komandan, dan beberapa pimpinan regu (maaf saya lupa istilah2x kemiliteran). Di perjalanan sang komandan memberikan arahan2x kepada para pemimpin regu tentang taktik dalam melakukan penyerbuan. Sang komandan melakukan taktik penyerbuan langsung secara Terbuka, dengan tujuan menggetarkan nyali lawan. Sekaligus melumpuhkannya.

            Singkat cerita, sampailah pasukan tersebut ke perkampungan yang dimaksud. Setibanya disana seorang kepala regu memberikan pandangan berbeda kepada sang komandan mempartimbangkan keadaan desa yang ternyata sangat sepi. Tidak ada seorang pendudukpun yang terlihat berada diluar. Bahwa penyerbuan secara terbuka sangat beresiko. Melihat medan yang ada sangat mencurigakan. Bisa saja kesunyian tersebut ternyata adalah sebuah jebakan. Ujar sang kepala regu. Namun karena merasa lebih banyak tahu, lebih pengalaman. Dan lebih segalanya dari sang kepala regu, peringatan tersebut tak diindahkan. Pasukan tetap dikomando untuk menyerbu masuk dari 4 penjuru.

            Melihat keadaan itu. Sang kepala regu yang tadi mengingatkan sang komandan kini mulai bimbang. Nuraninya berkata bila ia memimpin pasukannya masuk ke desa seperti yang diperintahkan komandannya dia yakin pasukannya akan luluh lantah. Namun sebagai jundi (pasukan) dia harus taat pada pemimpinnya. Disisi lain, sebagai seorang prajurit dia tahu cara untuk menghadapi keadaan semacam ini.dia yakin dengan taktik dari dirinya, pasukannya akan meraih kemenangan dengan korban yang minimal.

            Akhirnya sang kepala regu tersebut memilih untuk mengorbankan dirinya dengan menjalankan taktik versi dirinya sendiri yang artinya dia disersi (tidak patuh) dari sang komandan. Dan pasti akan mendapat hukuman yang sangat berat. Dalam buku tersebut hukuman pasukan yang disersi adalah hukuman mati. Dia berfikir biarlah dia seorang yang mendapat hukuman nantinya asal pasukannya selamat.

            Tibalah saat penyarbuan. Sang komandan beserta pasukan regu yang lain (minus 1 regu ) menyerbu masuk dari berbagai arah. Namun ketika mulai memasuki area pemukiman penduduk, tiba-tiba keluarlah pasukan musuh yang mengepung balik dari pemukiman2x penduduk. Sang komandan beserta pasukannya sangat panik dan memberikan perlawanan seadanya, karena tidak menduga kejadian tersebut.

            satu regu yang tidak ikut menyerbu tadi ternyata melakukan penyusupan ke rumah2x penduduk musuh dan mengambil amunisi yang ada disana. Setelah itu mereka naik ke atap-atap rumah untuk menyerang pasukan lawan dengan anak panah. Dengan posisi yang berada di atap. Pasukan tadi memiliki berbagai keuntungan dalam memanah ditambah amunisi yang berlimpah, pasukan tadi memukul balik musuh. Akhirnya pasukan sang komandan yang sudah terdesak dan hanya tinggal 50% tadi bisa selamat.

            Singakat cerita, pasukan penyerbu pun meraih kemenangan. Merekapun bersuka cita sepanjang perjalanan pulang. Setibanya di kerajaan. Panglima perang negara tersebut pun meminta laporan mengenai peperangan yang terjadi. Sang komandan pun bercerita apa yang terjadi. Mendengar cerita sang komandan panglima pun memanggil si ketua regu yang disersi. Lalu menjatuhkan sebuah hukuman atas tindakan disersinya. Namun karena dinilai ikut andil dalam kemenangan pasukan, hukuman mati yang seharusnya dijatuhkan, diganti dengan hukuman cambuk sebanyak 40x.

            Apakah memang di sebuah organisasi yang komandois, atau berdasr komando seperti militer, para bawahan harus “menghilangkan kecerdasannya” serta pasrah saja. Menuruti semua hal yang dikatakan oleh sang bos/komandan. Dan apakah oganisasi yang “ku ikuti sekarang” mengadopsi nilai2x militer. Yang mengharuskan aku harus patuh dan nurut tanpa boleh berfikir. Sampai dimana ya batas harus tsiqoh dan harus  kritis???

 

 

Cikarang 29 juni 2009

Agoes.




Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

Name (required)

Email (required)

Website

Speak your mind