NGERES..(sensi) Maryamah KArpov
Excellence….kata2 yg terlontar waktu menutup lbr terakhir novel Maryamah Karpov. itulah buku terakhir dari tetralogi karya Andrea, yg telah benar2 sukses memadukan antara sains, pendidikan dan budaya melayu dlm satu karya sastra ringan sekaligus berbobot.
Dari segi sains, sebuah hitungan matematik dan fisika yg terasa menarik dan cukup makfum buat dipahami secara logika, sehingga mampu mematahkan teori yg menganggap keduanya sulit dipahami, ternyata dpt diterapkan utk mengatur kehidupan ini, bukan hanya sekedar angka2 mati.
Dari segi budaya, khususnya budaya melayu. Andrea sukses mengangkat budaya melayu di belitong dan mengemasnya menjadi sesuatu hal yg atraktif. Detail kebiasaan masy melayu di belitong begitu jenaka, norak, sekaligus sarat akan nilai2 moral. Deskripsi Andrea ttg belitong mampu membawa pembacanya seakan2 berada di belitong.
Dari segi pendidikan , tokoh Ikal digambarkan sbg orang yg berpendidikan, mampu menjembatani antara ilmu tinggi yg diperolehnya, yg justru berbanding terbalik dg budaya melayu, khususnya di belitong, dalam suatu alur pemikiran yg ringan dan atraktif.
Judul “Maryamah Karpov”…merupakan kejelian Andrea yg mampu menyihir pembacanya pada rasa penasaran yg cukup besar. Sosok misterius Maryamah Karpov yg ternyata merupakan bagian dari simpul semangat dari mimpi yg ingin diraih Ikal.
Cerita2 dalam tiap2 bab (mozaik) yg ringan tapi sekaligus mengena di hati. Dalam novel ini tokoh Ikal bereunian dengan teman2 dalam Laskar Pelangi, dengan latar belakang belitong. Tiga sahabat yg paling mengedepan , Ikal, Lintang dan Mahar. Sungguh perpaduan yg luar biasa. Lintang, dg genius matematik dan fisikanya, Mahar dg pendekatan magicnya, disatukan oleh Ikal dg akal brilliannya. Norak tapi keren….banget.
Di Novel ini, pembaca akan puas dg pertanyaan2 yg selama ini dipertanyakan………….
Lintang,
Meski tidak melanjutka pendidikan secara formal tetapi ternyata Lintang mampu mengubah kehidupannya menjadi lbh mapan, dg tetap berpijak pada matematik dan fisika dalam kehidupannya. Bravo buat si genius Lintang.
Aray,
Nasib baik memang berpihak padanya. Alloh SWT memang Maha Adil pada hambanya. Seorang yatim piatu dg segala keterbatasannya, berbekal mimpi yg kuat, mampu mengalahkan keterbatasannya untuk meraih mimpinya. Mimpi Aray…keep dreaming for Aray.
Mahar,
Teman Ikal yg eksentrik ini masih tetap menggunakan pendekatan magicnya yg dia percayai mampu mengalahkan segalanya di kehidupan ini. Di dunia magic ini pula Mahar menemukan hidup yg sebenarnya (cita dan cintanya)….Bless to Mahar.
A Ling,
Sosok perempuan Hokkian (Hok Pha lebih tepatnya), merupakan motor penggerak simpul2 otak Ikal. “Being power of love”nya Ikal yg mampu merubah hidup Ikal menjadi berbanding terbalik dg waktu tapi berbanding lurus dg “gila”. Beruntunglah sosok A ling yg menjadi akhir ekspedisi Ikal yg luar biasa.
Ikal,
He is super genius. Meski tidak terlalu pintar dalam ilmu pasti, tepatnya Ikal adalah seorang ekonom, tapi dia berhasil menterjemahkan pemikiran seorang genius Lintang dan pendekatan magic Mahar serta semangat & mimpi2 yg diperoleh dari sosok Aray ke dalam kehidupannya, dalam meraih cita dan cintanya. Semangat yg kuat utk meraih mimpi2nya membuat Alloh SWT memeluk mimpinya.
Nasib baik berpihak pada Ikal, meski tidak semanis nasib Aray. Ikal is the leader……..Bravo, bravo, bravo Ikal.
Bang Zaitun,
Satu lg tokoh seniman kampung eksentrik yg cukup menyita perhatian pembaca di novel ini. Gayanya yg norak abis sekaligus eksentrik dg kebanggaan, gigi emas putihnya mampu menjadi guru dlm soal cinta bagi Ikal dan Arai.dan dari karakter ini seolah pembaca diajarkan sebuah “seni dalam menikmati seni”, sebuah ketulusan hati yang tulus tanpa pamrih. Yang kebahagiaannya adalah ketika melihat orang lain bahagia karenanya. Imajinasi dari seniman kampung ini pada kenyataannya tidak kampungan sama sekali……”kerlingan” buat seniman belitong ini
Secara keseluruhan novel ini ……..HIGH RECOMMENDED.
tahukah kawan, (gaya si ikal)
ini bukan tulisanku, karena aku belum selesai membaca
ini adalah tulisan kawanku
-DS-
Plaza Bapindo
5 Des 2008
Uncategorized | Comment (1)