SANG KEMATIAN

September 17th, 2008

     Pernah gak kamu menyaksikan sang kematian langsung dengan mata kamu sendiri?? Aku pernah, kejadiannya beberapa hari yang lalu saat aku berada di sebuah rumah sakit di bilangan cawang Jakarta.

     Rupanya seperti itu bentuknya sang kematian, begitu tenang, tanpa suara. Tiba tiba saja dia datang menjemput. Cuma 2 helaan nafas panjang lalu…….., diiringi tangis yang pecah dari para kerabat yang ada dan tangan tangan cekatan para dokter yang sedang sibuk memompa jantung untuk menahan sang kematian. Selang beberapa menit kemudian, para dokter menghentikan kegiatan mereka. Lalu menggeleng dengan sedih, “maaf bu kami sudah berusaha semampu kami”. Tangis para kerabat menjadi semakin memecah keheningan larut malam, sekitar pukul 22.15 menit. 1 lagi pekerjaan Izra’il tuntas dilaksanakan.

     Menjadi “orang luar” diantara raungan tangis membuat aku ikut merasakan juga perasaan duka yang amat dalam.ada rasa haru biru di hati. Akan tetapi  Dalam hati aku berfikir, mungkin orang yang telah meninggal tersebut kini sedang tersenyum menyaksikan para keluarga dan kerabat ternyata mencintainya, membutuhkannya, peduli dengannya. Bahwa kehadiran dirinya ditengah2x mereka sangat dibutuhkan.

     Trus, aku jadi takut sendiri. Ternyata sang kematian itu begitu hening, bagitu tenang, begitu cepat, apakah aku akan siap tatkala sang kematian menjemput. Sedang apa aku saat itu, sedang dalam kebaikankah atau sebaliknya?? Naudzubillah. Lalu apakah ada yang sudi menangisi kepergianku? Apakah aku cukup berharga untuk ditangisi?

     Ah memikirkan ini membuatku ragu, karena selama ini aku merasa sendirian. Hanya bergulat dengan waktu, berpacu dengan pekerjaan, rumah-kantor-rumah, sangat minim interaksi sosial yang ku lakukan dengan keluarga, tetangga, teman2x. benarkah ini?? Kayaknya aku harus sedikit take care to each other deh, mungkin harus mulai ku kikis pelan-pelan sikap individualis ku. Agar kahadiranku menjadi bermanfaat buat orang lain , dan ketika sang kematian datang menjemput, ada orang2x yang sudi menumpahkan sedikit air matanya untuku. Mengurus urusanku yang belum selesai. Sehingga aku bisa tersenyum ketika saat itu datang. Semoga………

 

Jakarta, 18 September 2008

 

Agoes