GENAP-GENAP

February 13th, 2008

           

              Eh temen2x, hari ini aku lagi seneng bgt lho, bukan gara2x hari plentinan yang gak jelas asal muasalnya itu, tapi karena hari ini genap 2 tahun aku kerja di Sini. 2 tahun gt lho. Tau gak kenapa its so special?? Karena di tempat2x kerja sebelumnya paling lama aku bertahan 7 bulan, gak lebih. Banyak sebab aku gak betah di tempat2x kerjaku sebelumnya, ada yang gak cocok ma atasan lah, suasana kerja lah, dan yang sebenernya gak mau aku masukin faktor yang jadi pertimbangan aku keluar dari tempat kerjaku sebelum2xnya, tapi memang itulah penyabab aku keluar adalah gaji.munafik bgt kayaknya kalo gak menyebutkan soal yang satu ini.

Sebab aku keluar dari tempat kerjaku yang terakhir yah masalah itu tadi, gaji. Padahal aku bekerja di salah satu operator selular terkemuka di Indonesia, saat tau diterima disana, terbayanglah hal muluk2x mengenai tempat kerja yang ideal. Sangat ideal malah. Tapi saat aku mulai bekerja, mulai rontok juga imaji2x muluk tadi. Ternyata gak sesuai banget dengan bayanganku sebelumnya. Cara kerja yang tidak manusiawi, gaji yang tidak manusiawi. Juga perlakuan tidak manusiawi lain. Yang paling menyakitkan adalah masalah pembayaran gaji. Setelah bekerja 1 bulan penuh aku hanya dibayar ½ bulan saja, alasannya perusahaan tutup buku 15 tiap bulannya. Padahal saat itu aku ada cicilan yang harus dibayar. Sedih bgt aku waktu itu, udah kuliah capek2x tapi tenaganya dibayar jauh lebih rendah dari kuli angkut. Alhasil di bulan ke 2 aku Cuma kerja ½ bulan. Itulah, Cuma 1,5 bulan aku kerja disana.

Dalam hati yang dongkol itu aku Cuma bisa berdoa mendapat tempat kerja yang wajar saja, gak muluk2x, dabangun dengan azas simbiosis mutualisme alias saling menguntungkan. Jam kerja yang seperti orang2x lain berangkat pagi-pulang sore, Cuma itu do’a ku.

Ternyata, Allah SWT. Sangat baik kepadaku. Aku diberikan sesuatu yang sesuai dengan permohonanku, lebih malah. Semuanya diluar perkiraan. Karena waktu itu, aku sedang kalut. Hutang bertumpuk disana-sini, sementara gajiku saat itu sangat2x tidak mencukupi. Sampai tiba2x sebuah perusahaan agency tenaga kerja menawarkan pekerjaan. Dan Here I am.

Alhamdulillah, terimakasih ya Allah. Engkau sudah teramat baik padaku. Sudah tak terhitung besar nikmat yang Engkau berikan. Mudah2xan aku termasuk hamba2x Mu yang bersyukur.

Cikarang 13 Feb 08

                                                                                           Agoes

Demokrasi, final??????

February 5th, 2008

Sudah hampir satu dasawarsa reformasi berjalan, sudah banyak perubahan2x signifikan yang terjadi sepanjang 10 tahun terakhir, hmmm gak terasa ya tau-tau udah 10 tahun aja. Padahal kayaknya baru kemaren lho, waktu itu aku masih berseragam SMU.       

10 tahun, wuih. Bukan waktu yang sedikit ya, berarti udah 10 tahun juga deh bangsa ini ngejalanin reformasi yang didalamnya (katanya) terdapat demokratisasi, keterbukaan, dan era kebebasan berpendapat dan berekspresi. Bener gak sih?? Dan kalo bener, apa iya ini yang masyarakat (aku dan teman2x) harapkan dari reformasi yang didapat dengan lumayan berdarah-darah.            

Sepadan gak ya, pengorbanan temen2x mahasiswa yang memperjuangkan reformasi dulu dengan hasil yang didapat, minimal sampai saat ini deh, kok kayaknya masih jauh banget ya, dan keliatannya makin lama reformasi makin layu ajah. Huh sedihnya. L

Yang paling terasa dari era ini dan paling banyak nguras harta, tenaga, pikiran , dan perhatian bangsa ini adalah demokrasi. Kata orang2x (negara2x yang katanya maju itu lho), ini cara paling canggih dalam mengelola Negara. Karena asas demokrasi adalah dari, oleh dan untuk rakyat.

Kalo menurutku pendapat diatas gak salah, betul banget malah. Tapi…….sesuai dengan kata2x diatas juga “cara paling canggih” untuk mengelola Negara, ini dia yang bikin berat. “paling canggih”. Kayaknya aturan canggih ini Cuma bisa berjalan di masyarakat yang udah canggih juga. Yah minimal “agak canggih” deh. Sedangkan buat Indonesia yang masyarakatnya masih……. (duh susah nyari kata2x yang tepat). Demokrasi gak bakalan bisa dijalanin, gimana tidak?? Dengan beras 2 lt aja, masyarakat kita rela nge gade in masa depannya selama 5 tahun, bahkan cuma dengan ditakut2x in aja udah bisa.

Demokrasi di negeri ini Cuma jadi pesta para cukong2x politik dan pemilik modal. Perlahan namun pasti, para cukong2x ini menjarah , menindas, menguasai Negara ini untuk kemudian satu persatu dipereteli untuk kepentingan mereka2x. perusahaan2x strategis milik negara dijual ke asing,. satu2x, hak2x masyarakat dicabut, dan salah satunya yang paling berbahaya adalah, tercabutnya akses pendidikan dari masyarakat.gimana nggak?? Uang masuk perguruan tinggi negeri yang terkenal murah, kini biaya awalnya saja udah puluhan juta. Jadi pendidikan hanyalah bertujuan untuk meneruskan kekuasan para cukong2x tersebut, sarana pewarisan para cukong dari  generasi ke generasi.

Tidaklah mungkin pemimpin semacam Mahmoud Ahmadinjad lahir dari system demokrasi “cukong” seperti ini. Sebab beliau bukan dari kalangan berada, sedangkan disini baru mau menjadi calon saja sudah harus menyiapkan milyaran rupiah untuk disetorkan ke partai. Yang paling mungkin lahir dari system kayak gini adalah para pemimpin yang bekerja maksimal, tanpa kenal lelah untuk mengeruk semua yang bisa didapat. Sabet kiri, sikat kanan, injak bawah, tekan atas, untuk mendapatkan apa2x yang sudah dikorbankan sebelumnya.

Sistem kayak ginikah yang kita mau, apakah memang demokrasi sudah final di negeri ini, bila sudah, apa yang bikin kita bisa mengatakan final?? Masyarakat kita sekarang Ibarat Sekumpulan domba yang dibebaskan dari sang gembala, bukannya merasa bebas, sang domba malah mengkeret mendekati sang gembala karena takut akan dunia luar, masyarakat kita lebih suka seperti para napi, yang walaupun terkurung di jeruji besi, tetapi hidupnya terjamin, makan 3x. enak tidur n gak pusing.

Mungkin demokrasi bukanya gak baik, hanya saja belum waktunya diterapin di negeri yang masih bodoh ini. Negara ini masih butuh diktator2x macam (alm) Suharto kali ya, tapi gak sejahat beliau mudah2xan. Yang bisa mencerdaskan bangsa ini. Bisa mengajari para domba ini mengenai dunia luar. Membawa penerangan yang terang benderang di sini. Dan ketika saat itu telah datang, barulah saya akan menyambutmu dengan hangat, dengan suka cita wahai DEMOKRASI.

Agoes

Yang mulai jenuh dengan “demokrasi”

6 Januari 2008