PAHLAWAN

August 1st, 2007

Tiap kali memasuki bulan agustus seperti ini, seperti biasa setiap rumah mulai memasang bendera merah putih. Entahlah kebiasaan ini dimulai oleh siapa atau atas anjuran siapa, mungkin nasionalisme bangsa Indonesia sedang mencapai puncaknya ?? atau mungkin juga hal ini telah berubah menjadi sekedar simbol2x tanpa arti karena hanya menjadi kebiasaan atau ritual warisan para orang tua, bukan karena rasa nasionalisme.

            Berbicara tentang kemerdekaan indonesia, tak akan pernah bisa dilepaskan dari kata perjuangan, dan perjuangan tak akan ada tanpa orang2x yang rela berkorban, mengerahkan  segenap kemampuannya tanpa pamrih yang kini kita definisikan sebagai Pahlawan.

            Saya ingin mengutip salah satu bab dari buku Mencari Pahlawan Indonesia, karya Anis Matta karena menurut saya tulisannya sangat menggugah saya tentang siapa dan apa sebenarnya pahlawan itu.

“O, PAHLAWAN NEGERIKU”

            Di masa pembangunan ini “kata Chairil Anwar mengenang Dipenogoro,”Tuan hidup kembali. Dan bara kagum menjadi Api”.

            Kita selalu berkata jujur pada nurani kita ketika kita melewati persimpangan jalan sejarah yang curam. Saat itu kita merindukan pahlawan. Seperti Chailril anwar tahun itu, 1943, yang merindukan dipenogoro. Seperti kita juga saat ini. Yang merindukan pahlawan itu. Karena krisis demi krisis telah merobohkan satu demi satu sendi bangunan negeri kita. Negeri ini hampir seperti kapal pecah yang tidak jemu2x dihantam gulungan ombak.

            Ditengah badai ini kita merindukan pahlawan itu. Pahlawan yang, kata Supardi,”telah berjanji kepada sejarah untuk pantang menyerah”. Pahlawan yang, kata Chairil Anwar,”berselempang semangat yang tak bisa mati.” Pahlawan yang akan membacakan “pernyataan” Mansur Samin:

Demi amanat dan beban rakyat

Kami nyatakan ke seluruh dunia

Telah bangkit di tanah air

Sebuah saksi perlawanan

Terhadap kepalsuan dan kebohongan

Yang bersarang dalam kekuasaan

Orang-orang pemimpin gadungan

            Maka datang Jualah aku ke sana, akhirnya. Untuk kali pertama. Ke Taman Makam Pahlawan, di kalibata. Seperti dulu aku pernah dating ke makam para sahabat Rasulullah SAW di Baqi dan Uhud, di Madinah. Karena kerinduan itu. Dan kudengar Chairil Anwar seperti mewakili mereka:

Kami sudah coba apa yang kami bisa

Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa

Kami sudah beri kami punya jiwa

Kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa.

Kami Cuma tulang-tulang berserakan

Tapi adalah punyamu

Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang2x berserakan

            Tulang2x berserakan itu. Apakah makna yang kita berikan kepada mereka? Ataukah tidak lagi ada wanita di negeri ini yang mampu melahirkan pahlawan? Seperti wanita2x arab yang tak lagi mampu melahirkan lelaki seperti Khalid bin Walid? Ataukah tak ada lagi yang mau, seperti kata Taufik Ismail di tahun 1966,”merelakan kalian berdemonstrasi.. karena kalian pergi menyampurnakan kemerdekaan.. kemerdekaan negeri ini.”

            Tulang belulang berserakan itu. Apakah makna yang kita berikan kepada mereka? Ataukah, Seperti kata Sayyid Quthub, “Kau mulai jemu berjuang, lalu kau tanggalkan senjata dari bahumu?”

            Tidak!! Kaulah pahlawan yang kurindu itu. Dan beratus jiwa di negeri sarat nestapa ini. Atau jika tidak, biarlah kepada diriku saja aku berkata: Jadilah pahlawan itu.

Cikarang, 2 Agustus 2007

Agoes