BOUT PIALA ASIA

July 29th, 2007

Alhamdulillah wasukurillah, selesai deh perhelatan sepakbola terbesar yang pernah digelar di negeri ini, dengan Iraq yang akhirnya merebut mahkota juara dengan mengandaskan salah satu raksasa Asia Arab Saudi 1-0 (lagi2x sepakbola menunjukan magisnya).

Bagi Indonesia yang baru pertama kali menggelar Event sebesar ini mendapatkan banyak keuntungan, yang pertama tentu saja kesuksesan sebagai tuan rumah, terbaik dibandingkan dengan 3 penyelenggara lainnya. Tolok ukurnya bisa dilihat dari rata2x penonton tertinggi tiap pertandingan dan liputan media terluas (berita kota-sabtu 28 Juli 2007), yang ke 2  mungkin penampilan timnas Indonesia  yang patut diacungi jempol, saya bersyukur bisa menyaksikan keseluruhan penampilan Timnas yang tak kenal menyerah secara langsung, menyaksikan perjuangan mereka saya seperti membaca kembali buku PSPB sewaktu masih di bangku SD yang menceritakan bagaimana heroiknya para pahlawan bangsa dalam mengusir penjajah.

Bulu kuduk saya merinding ketika lagu Indonesia raya dikumandangkan. Pada saat itu saya bisa kembali merasakan semangat Nasionalisme yang ternyata masih tersmpan di dada setiap warga Negara Indonesia, tidak ada yang menyuruh mereka untuk ikut bernyanyi, tapi kita bernyanyi, bukan hanya sekedar bernyanyi, tapi 90.000 orang bernyanyi dari hati. Saat itu supporter kita benar2x menjadi pemain ke 12 dan hal inilah mungkin yang membuat penampilan timnas kita sedemikian baik.

Inilah sepakbola, Olahraga yang tak terbeli, Negara2x dengan kualitas pemain dunia macam Australia dibuat tidak berkutik, Kok bisa??? Itulah yang membedakan olahraga ini dengan Olahraga lain, Sepakbola mengandung misteri2x yang terkadang menjungkirbalikkan akal sehat, bagaimana IRAQ Negara yang sedang porak poranda ini dengan semangat patriotismenya dapat mematahkan prediksi banyak orang dengan menjuarai kompetisi sebesar piala asia, hal yang belum pernah mereka capai sebelumnya ketika Negara mereka sedang dalam keadaan normal bahkan sejahtera.

Inilah sepakbola, Mungkin hanya olahraga inilah yang bisa menyatukan sebuah bangsa. Di Iraq, semua etnis yang sedang berperang serentak menghentikan perang saudara dan ikut merayakan kemenangan negaranya dengan turun ke jalan-jalan dan merayakannya bersama2x, tidak lagi memandang sunni, si’ah, ataupun kurdi. Sebuah hal yang lembaga dunia semacam PBB pun belum berhasil  melakukannya sampai dengan saat ini.

Inilah sepakbola, Olahraga yang bisa meningkatkan harga diri suatu bangsa di dunia, Apalah Brazil dan Argentina sebagai Negara bila tanpa sepakbola, hanya sebuah Negara dunia ke 3 (istilah lain untuk negara2x miskin), tapi begitulah, Negara Negara ini memiliki harga diri yang tinggi dikarenakan Sepakbola, sebuah cara yang unuk untuk menunjukkan eksistensi negaranya.

Bagaimana dengan Indonesia?? Sudah terlalu lama Negara ini diremehkan di sepakbola, sudah terlalu lama kita puasa gelar. Kini momentum itu telah lahir, penampilan Impresif, pantang menyerah dari tim nasional, kembalinya para supporter ke stadion (dengan atribut tim nas, bukan klub), dukungan pemerintah yang “kelihatannya” sudah lebih baik. Apalagi yang kita tunggu??? Ayolah bangkit, bangunlah dari tidur panjangmu wahai garuda, Kita mau, Kita maju, Kita Bisa. YOOO AYOOO AYO GARUUUUDA, KU DI SIIINI KITA HARUS MENAAAANG!!!!!!!!!!!

Jakarta, 29 July 2007

Agoes

DINGIN

July 11th, 2007

Dialog kakak beradik di sebuah rumah yang semakin hari semakin dingin;

Adik:                kak dingin sekali disini, aku gak kuat lagi..

Kakak:             sabar dik, ayo kita nyalakan api untuk mengusir dingin ini.

Adik:             tapi gimana kak?? Korek api saja kita gak punya. Oh                         iya Pinjam ma ayah aja.

Kakak:           gak mungkin dik, justru ayah yang buat ini semua es                         ini, tiap hari tambah besar es   yang dibuatnya

Adik:            Jadi gimana donk kak??

Kakak:          Kamu punya uang?? Ayo kita patungan saja untuk          membeli korek api dan lilin

MEREKAPUN MENGUMPULKAN UANG

Kakak:             Nah sekarang kamu beli sana di warung.

SI ADIK PUN MENURUTI DAN PERGI KE WARUNG, namun……..

Kakak:             kenapa dik??? Kamo kok nangis?? Trus mana korek dan lilinnya??

Adik:                Tadi saya dipalak sama ayah, uangnya diambil semuanya..

Kakak:             sabar dik, sabar, pertolongan pasti akan segera datang

Adik:                Sabar gimana kak?? Aku sudah hampir mati kok masih disuruh sabar. Lagian kalo bukan kita, siapa lagi kak???

Kakak:             (diam2x dia mengamini perkataan sang adik)

Adik:                Kak, tadi sepanjang perjalanan aku melihat rumah2x lain yang terang benderang dan hangat, mereka mau kok menerima kita.

Kakak:             Tidak, gak boleh ada fikiran seperti itu di otakmu, singkirkan itu. Ini rumah kita, kita yang bertanggung jawab disini

Adik:                tapi…. Ayah kak. Ayah gimana??

Kakak              Sudah saatnya kita yang ambil alih rumah ini. Dik apa yang kita punya sekarang??

Adik:                Cuma ini kak (sang adik menggenggam sebuah batu seukuran kepalan tangan). 

Kakak:             Yah apapun itu ayo kita gunakan untuk menghancurkan es es sialan ini.

MEREKAPUN MULAI MENGHANCURKAN ES-ES YANG DIBUAT AYAHNYA

SEDIKIT DEMI SEDIKIT

Adik:                Kak nanti kalo ayah datang bagaimana???

Kakak              biarlah nanti saja, tapi kalau dia coba menghalangi kita, akan kita hancurkan juga pakai ini (sambil menunjuk batu digenggamannya)

TAK BEBERAPA LAMA KEMUDIAN DATANGLAH SANG AYAH, MELIHAT KEADAAN INI DIA MENCOBA MENGHALANGI DAN INGIN MEREBUT BATU TERSEBUT DARI GENGGAMAN ANAKNYA, SI ANAK TAK TINGGAL DIAM, DIARAHKANNYA PUKULAN TERAKHIRNYA UNTUK SANG AYAH YANG LALU TERJATUH MENGGELEPAR.                                                                        MELIHAT HAL INI SANG ANAK BUKANNYA MENOLONG, MALAH SECEPAT KILAT  MENGELUARKAN SEMUA BARANG DI KANTONG SANG AYAH, ADA KUNCI2X, ADA KOREK, LILIN, DAN BANYAK LAGI.

SANG KAKAK LALU MENYALAKAN LILIN, BAHKAN API UNGGUN UNTUK MENGHANGATKAN MEREKA, SEMUA ES DIRUMAH ITU KINI TELAH MUSNAH,  

ADA SEDIKIT PENYESALAN DIHATINYA, PERASAAN MANUSIAWI SEORANG ANAK, DALAM HATI IA BERUJAR “MAAFKAN AKU AYAH, MAAFKAN AKU YA TUHAN, SEMOGA ENGKAU MENGERTI”.             

                                                                                             Cikarang, 12 juli 2007

Hasil percakapan dengan seorang kawan

Persembahan Untuk Perubahan

agoes